detik-detik waktu berlalu
kubuka buku
mencari, berapa lembar habis olehku
Selasa, 18 Oktober 2011
dasar buku
satu lagi kisah manis yang mesti buru-buru ditutup
kisah yang sempat membuatku mabuk
pada kata-kata
pada bahasa dan setiap ide pikiran yang mesti selaras dan dibangunatas landasan yang kuat
inilah kisat terakhir yang manis dan menyebalkan
dan semua bagian di dalamnya
prolog, dialog, epilog
mesti terbagi dan dihapus satu-persatu
hanya sekedar melapa kelelahan hati yang berontak
tak mau melewati satu lagi malam indah
tanpa kesan...
terakhir
terjahit manis di dasar buku
kisah yang sempat membuatku mabuk
pada kata-kata
pada bahasa dan setiap ide pikiran yang mesti selaras dan dibangunatas landasan yang kuat
inilah kisat terakhir yang manis dan menyebalkan
dan semua bagian di dalamnya
prolog, dialog, epilog
mesti terbagi dan dihapus satu-persatu
hanya sekedar melapa kelelahan hati yang berontak
tak mau melewati satu lagi malam indah
tanpa kesan...
terakhir
terjahit manis di dasar buku
Kamis, 08 September 2011
milikku
Biarkan aku terlelap untuk sesaat!
Biarkan aku terpejam sejenak!
Biarkan aku bermimpi sekejap!
Dan jangan bangunkan aku!
Karena semua memang begitu indah
Apa yang sirna perlahan
Dan kembali
Seperti meteor yang menghantam kepalaku
Hatiku
Kalau begini, apa kau mau dengarkan
Mimpi bodohku yang terlanjur tertanam dalam
Kalau begini, pada siapa lagi
Ku ungkap sejuta kemarahan dan penyesalan
Ah, harusnya tak ku ikuti jebakan itu
Hanya buatku bermimpi
Dan enggan kembali
Biarkan aku tetap dalam duniaku!
Selasa, 11 Januari 2011
mendung terakhir
Masih pagi
Bahkan masih banyak yang ribut tentang reaksi adisi dan kawan- kawan
Yang berhasil membalikan dunia
Tawa histeris bahkan amarah masih menggema di setiap sudut
Dan di sana menyapaku
Takut kalau ini mendung terakhir yang kurasa
Kapan dan dimana
Seperti telah dijadwal seolah rapat kabinet yang pasti kan kuhadapi
Hanya saja aku belum tau
Aku belum siap dengan bahan yang akan kita perbincangkan
Aku belum siap pergi dan menginap tanpa apa yang kumiliki sekarang
Ia mendekat menyapaku
Takut ini mendung terakhir yang kumiliki
Bahkan masih banyak yang ribut tentang reaksi adisi dan kawan- kawan
Yang berhasil membalikan dunia
Tawa histeris bahkan amarah masih menggema di setiap sudut
Dan di sana menyapaku
Takut kalau ini mendung terakhir yang kurasa
Kapan dan dimana
Seperti telah dijadwal seolah rapat kabinet yang pasti kan kuhadapi
Hanya saja aku belum tau
Aku belum siap dengan bahan yang akan kita perbincangkan
Aku belum siap pergi dan menginap tanpa apa yang kumiliki sekarang
Ia mendekat menyapaku
Takut ini mendung terakhir yang kumiliki
cerita
Ada bintang jatuh pada kepalaku
Yang risau dan kini terang
Ada dengung menyelinap pada telingaku
Terbuka pada sebuah cerita
Namun ada rintik hujan
Menusuk nadiku
Tentang masa kelam
Yang rantainya tak terputuskan
Yang risau dan kini terang
Ada dengung menyelinap pada telingaku
Terbuka pada sebuah cerita
Namun ada rintik hujan
Menusuk nadiku
Tentang masa kelam
Yang rantainya tak terputuskan
Langganan:
Postingan (Atom)