Terbangkan jiwa tua yang mulai lelah berdiri di balik perisai
Yang coba menjatuhkan diri tanpa melukai kudanya
Jumat, 20 September 2013
...
Minggu, 25 Agustus 2013
anak-anak rajawali
Ayah,
hari ini aku bertemu dengan anak-anak rajawali itu
pipit yang gusar ini mencoba terbang di depan mereka
angin masih cukup gigih
dan rupaku pun masih samar
tapi, rajawali-rajawali muda itu tetap mengikuti kepak sayap yang kadang masih oleng ini
Ayah,
bangun aku jadi induk yang tegar
setegar yang seharusnya bersama mereka
tebalkan bulu-buluku untuk mampu menahan dinginnya dunia untuk mereka
lebutkan agar mampu menjadi replika sarang yang nyaman
dan bila nanti aku pun menggundul
siapkan mereka untuk bangun sarang yang baru?
tak mesti untuk menaungiku
setidaknya untuk rajawali-rajawali yang baru.
hari ini aku bertemu dengan anak-anak rajawali itu
pipit yang gusar ini mencoba terbang di depan mereka
angin masih cukup gigih
dan rupaku pun masih samar
tapi, rajawali-rajawali muda itu tetap mengikuti kepak sayap yang kadang masih oleng ini
Ayah,
bangun aku jadi induk yang tegar
setegar yang seharusnya bersama mereka
tebalkan bulu-buluku untuk mampu menahan dinginnya dunia untuk mereka
lebutkan agar mampu menjadi replika sarang yang nyaman
dan bila nanti aku pun menggundul
siapkan mereka untuk bangun sarang yang baru?
tak mesti untuk menaungiku
setidaknya untuk rajawali-rajawali yang baru.
Sabtu, 18 Mei 2013
Menembus sangkar
Ayah, hari ini mereka memintaku belajar tuk tak terbatas sangkar
Hari ini aku ditempa tuk siap menjaga
Entah telur siapa yang kan kuasuh nanti
Seperti apa rupanya, sebesar apa mereka.
Aku harus menggapai mereka yang di luar sangkar.
Tapi Ayah, terbang pun, pipit ini sudah hampir lupa caranya.
Sangkarku sebenarnya adalah mata batin yang kian sempit,
Mengerucut dan berbatas kebimbangan.
Sangkarku bukan emas kokoh yang berkeliling,
Sangkarku tak bisa dibengkokkan dalam setahun.
Sangkarku bahkan hanya udara tipis di luar selimut keceriaan.
Sangkarku seperti hantu, mungkin hanya kan hilang bila kuberhasil mengusik-Mu.
Hari ini aku ditempa tuk siap menjaga
Entah telur siapa yang kan kuasuh nanti
Seperti apa rupanya, sebesar apa mereka.
Aku harus menggapai mereka yang di luar sangkar.
Tapi Ayah, terbang pun, pipit ini sudah hampir lupa caranya.
Sangkarku sebenarnya adalah mata batin yang kian sempit,
Mengerucut dan berbatas kebimbangan.
Sangkarku bukan emas kokoh yang berkeliling,
Sangkarku tak bisa dibengkokkan dalam setahun.
Sangkarku bahkan hanya udara tipis di luar selimut keceriaan.
Sangkarku seperti hantu, mungkin hanya kan hilang bila kuberhasil mengusik-Mu.
Minggu, 12 Mei 2013
guna sayap
Ayah, katanya aku tak boleh menggantungkan sayapku pada angin
katanya sayapku ada supaya aku bisa menentang angin dan menentukan kemana aku akan terbang
seperti apa rasanya?
bagaimana caranya?
aku tak pernah merasakannya.
bagaimana aku mengarahakn sayapku sementara berbaring dalam sangkar emas ini?
apa aku pun punya kuasa untuk membuka kunci?
Jumat, 19 April 2013
patah hati
ini kali aku tak mau lagi ada air mata
meski rasa nyatanya jauh lebih berkuasa
aku pernah bermimpi tentang malam itu, Ayah
ya, satu lagi bentuk khayal yang bermetamorfosis
jauh lebih indah dari bentuk awalnya
tapi, jadi seekor kupu-kupu bukan berarti hidup abadi
kepompong hanya akan sedikit terhibur bila mati dalam bentuk yang lain
bukan, Ayah
mimpi ini bukan sekedar kepompong
yang puas hanya karena mati setelah bersayap
mimpi ini seperti drakula haus darah
yang tak akan berhenti menghisap sisa-sisa waktu
ia ingin terus terbang
tak peduli bila hanya malam kawannya
bila terang siang yang kan melahapnya
jadi puing debu
ini kali mungkin tak sedalam belati yang lalu
yang terlanjur tertancap habis
belukar ini mungkin masih muda
bila dicabut belum dalam akarnya
tapi itu cukup, Ayah
cukup untuk mereka melihat ada luka di sana
gradasi warna yang tak menyatu sempurna
tawa, kosong, lalu duka
ini kali aku tak mau lagi ada air mata
biar semua berakhir dalam tawa
kuusahakan
meski yatanya rasa jauh lebih berkuasa
meski rasa nyatanya jauh lebih berkuasa
aku pernah bermimpi tentang malam itu, Ayah
ya, satu lagi bentuk khayal yang bermetamorfosis
jauh lebih indah dari bentuk awalnya
tapi, jadi seekor kupu-kupu bukan berarti hidup abadi
kepompong hanya akan sedikit terhibur bila mati dalam bentuk yang lain
bukan, Ayah
mimpi ini bukan sekedar kepompong
yang puas hanya karena mati setelah bersayap
mimpi ini seperti drakula haus darah
yang tak akan berhenti menghisap sisa-sisa waktu
ia ingin terus terbang
tak peduli bila hanya malam kawannya
bila terang siang yang kan melahapnya
jadi puing debu
ini kali mungkin tak sedalam belati yang lalu
yang terlanjur tertancap habis
belukar ini mungkin masih muda
bila dicabut belum dalam akarnya
tapi itu cukup, Ayah
cukup untuk mereka melihat ada luka di sana
gradasi warna yang tak menyatu sempurna
tawa, kosong, lalu duka
ini kali aku tak mau lagi ada air mata
biar semua berakhir dalam tawa
kuusahakan
meski yatanya rasa jauh lebih berkuasa
Minggu, 24 Maret 2013
pipit dan tuannya
pagi ini aku sadar,
sebagian yang aku inginkan telah Kau beri, Ayah
pipit ini punya langitnya sendiri
ia bisa kesana kapan saja
tak ada yang lain yang bisa membaginya
ya, aku punya akses penuh
atas langit tak berpenghuni
hanya saja,
langit itu benar-baner tak terjamah
karena ia hanya ada dalam angan si pipit
dan tuannya menyadarkannya akan itu pagi ini
langit itu terlalu asing untuk makhluk lain
dan ia takut pipit ini pun begitu
ia tak ingin pipitnya menjadi makhluk aneh di hadapan yang lain
ia menarikku dari langit itu
setidaknya ia menanamkan sejenis GPS di sayap imajiku
Ayah,
kalau nanti pipit ini pulang
apa Kau juga akan mengunci langitnya?
sebagian yang aku inginkan telah Kau beri, Ayah
pipit ini punya langitnya sendiri
ia bisa kesana kapan saja
tak ada yang lain yang bisa membaginya
ya, aku punya akses penuh
atas langit tak berpenghuni
hanya saja,
langit itu benar-baner tak terjamah
karena ia hanya ada dalam angan si pipit
dan tuannya menyadarkannya akan itu pagi ini
langit itu terlalu asing untuk makhluk lain
dan ia takut pipit ini pun begitu
ia tak ingin pipitnya menjadi makhluk aneh di hadapan yang lain
ia menarikku dari langit itu
setidaknya ia menanamkan sejenis GPS di sayap imajiku
Ayah,
kalau nanti pipit ini pulang
apa Kau juga akan mengunci langitnya?
Rabu, 20 Februari 2013
aku ingin pulang
Ayah,
aku ingin pulang
meski belum berhenti kutakutkan tanya-Mu
aku cukup lelah terus jadi penipu
aku hanya ingin pulang dan menghabiskan senja dengan-Mu
itu pun, kalau Kau terima aku masuk dalam rumah-Mu
Rabu, 09 Januari 2013
Kamis, 03 Januari 2013
bersulang
ini masuk putaran baru
bukan.
aku tak mau menjadikannya putara baru
dimana aku aka terus berkutat dengan bayangmu
cukup sampai yang lalu
aku lebih senang mmebayangkan jadi yang lain
untuk sekedar merasakan
apa yang belum pernah benar- benar aku alama
sensasi yang selama ini masih semu
dan hanya ada dalam...
lagi-lagi khayalku
mungkin ini lebih baik
untukku
dan juga kau yang mulai terusik kesenanganku
untuk dunia yang tetap kan berputar
dan tak akan mengijinkanku berhenti
untuk sepenggal kisah yang tak pernah benar-benar kita bagi
bersulang!
bukan.
aku tak mau menjadikannya putara baru
dimana aku aka terus berkutat dengan bayangmu
cukup sampai yang lalu
aku lebih senang mmebayangkan jadi yang lain
untuk sekedar merasakan
apa yang belum pernah benar- benar aku alama
sensasi yang selama ini masih semu
dan hanya ada dalam...
lagi-lagi khayalku
mungkin ini lebih baik
untukku
dan juga kau yang mulai terusik kesenanganku
untuk dunia yang tetap kan berputar
dan tak akan mengijinkanku berhenti
untuk sepenggal kisah yang tak pernah benar-benar kita bagi
bersulang!
Langganan:
Postingan (Atom)