Minggu, 28 Desember 2014
skenario impian
aku ingin berakhir dalam cinta
meski berarti semua cara logis untuk berakhir
adalah sia-sia.
aku ingin berakhir dalam warna biru
seperti langit yang kupotret hari Rabu.
lalu beristirahat dalam buku
seperti mimpi kecil yang mencari celah untuk tumbuh.
aku mau dilepas dengan tawa,
tak perlu isak sinetron yang berjuta episodenya.
aku mau pulang
dan hany pulang
jadi tak perlu kata perpisahan.
maka seperti wasiat kutulis puisi
yang bisu, hanya jika mereka mengenalku.
juga seperti wasiat kurangkai skenario
yang akan dirahasikan dalam peti mati.
berapa kali lagi?
lalu mengerang sekencangnya.
entah berapa kali aku kehilangan, Ayah
berapa kali aku menemukan
berapa kali aku jatuh
berapa kali aku coba bangkit
berapa kali aku menangis
berapa kali aku tertawa lagi
berapa kali aku bertanya
dan berapa kali aku mati.
Rabu, 17 Desember 2014
matanya
Pantaskan seorang yang bahkan lebih rendah dari pelacur ini melenggang masuk lalu mempora-porandakan kristal-kristal-Mu?
meski yang coba kutawarkan adalah wewangian terbaik
tak ada yang lebih harum dari nama-Mu di matanya.
sakit
semua yang kau wariskan padaku hari itu.
hari dimana kau biarakan mata ini terbuka,
hari dimana telinga ini bergetar oleh suara
Aku sesat
Kau tutup lagi semua jalan.
Jangan lepaskan aku!
Semua pengelihatan dan cahaya
Jangan Kau ambil lagi!
aku berteriak
bagaimana bila kali ini aku tak selamat?
Ayah!
Jangan lepaskan genggaman-Mu dari tanganku.
aku sesat,
bagaimana bila jatuh dan lumpuh?
aku telah lumpuh sebagian.
Ayah!
Jangan Kau tinggal!
aku berteriak.
bagaimana bila kali ini aku tak selamat?
Ayah!
sakit...
dalam sepi aku merintih.
berharap masih ada celah di telinga-Mu untukku.
Setengah
mampu kah aku?
Bahwa tiap tetes air mata ada
supaya aku ingat hanya Kau tempatku mengadu
sadar kah aku?
Karena sakitnya masih menjalar dan terasa di tiap sisi
membuatku menciut
kerdil
bisa saja kau tiup bagai debu
Masih kah aku hidup?
ya, karena masih ada yang bekerja untuk mengerti rasa sakit di sini
meski yang lain lumpuh
Setengah
Sebelah
Karena keutuhan hanya pada-Mu
Jumat, 05 Desember 2014
Sabtu, 01 November 2014
kalah lagi
untuk yang itu aku telah dewasa.
tapi, perihal menghabiskan koin di meja judi, ternyata perkara lain yang tak kalah rumit.
lalu, aku kalah -lagi.
akhirnya, aku nikmati sisa malam, menikmati bayangan mata yang tertutup
serta emosi yang terkubur kecewa.
barang kali, di balok sepi ini, hanya si putih yang masih punya hati.
Sabtu, 25 Oktober 2014
Sampan Kawan
aku ingin tahu lebih banyak lagi
tentang cara meminta gaun
dan mengumpan ikan.
Kini kailku terjepit di batu
alih-alih kenyang, aku hanyut.
Berharap ada sampan,
datang yang pernah kutawarkan pada kawan.
Lalu, akankah aku selamat?
Atau justru mati dihujam tombak.
Ayah,
aku ingin tahu lebih banyak lagi
tetang mengharap sampan
dan mengumpan ikan.
Senin, 18 Agustus 2014
putaran keempat belas
kita memasuki putaran keempat belas.
dan seakan tak tahu diri,
aku tetap menyalip-Nya.
aku menyalip tuk menemukanmu.
aku mendesak agar aku menang
dan kau hadiahnya.
ada sejuta kerikil membuatku terjungkir
luka, lebam, dan patah
seperti kesetanan aku justru menikmatinya
karena hanya dengan rindu,
kau menyembuhkan segala keterbatasan kataku.
Sabtu, 26 Juli 2014
hutangmu -mengajariku
aku belajar untuk menikahi syair dan puisi.
mereka kira aku penari.
melangkah di bait dan rima.
kau tahu, aku hanya ingin jadi petualang
yang tak harus takut tersesat
terseret bayangmu yang samar sekaligus tegas.
semua yang kutitipkan, dan kini jadi piutang
adalah rasa yang kelak kan kutagih darimu.
kau siap atau tidak,
itulah hutangmu dalam kehidupan ini.
mengajari aku agar tak selalu tersesat dalam pesonamu.
hutangmu -mencintaiku.
Rindu.
Rindu.
itulah yang mengandung tiap titik komaku.
saat ia terkunci, tak diijinkan keluar
anak kata yang dilahirkannya pun mati perlahan
menghirup sesaknya penyesalan.
Rindu.
ia yang membawaku ke titik awal.
saat terikat, bergerak pun tak mampu
ia membuatku tercekat di tengah jalan
rasa yang memudar membutakan mimpi.
Rindu.
adakah ia dalam tidurmu?
dalam jarak yang tak seberapa
ia bahkan tak mampu merengkuhmu
menarik kakimu, kembali padaku.
Senin, 30 Juni 2014
terdorong
aku tak tahu bagaimana menghindari rasa ini
mungkin ini dorongan iblis,
tapi ia selalu menang
tiap kali hati ini mencari dimana panggungnya
bukan ini
dan ia makin haus akan mimpi
aku harus mulai dari mana lagi?
aku tak mau jauh, tapi dimana rumah?
aku tak ingin melawan, tapi dimana...
bahagiaku mungkin hanya di sisi-Mu.
Sabtu, 28 Juni 2014
belajar -terus
bunga ini akan kupupuk hingga nanti Kau ambil
biar pipit ini belajar menjadi merpati dewasa
bias ia bermimpi jadi bulan
dan tak selalu memuja bintang
supaya kita tak terus berseteru
dan aku siap jadi pemancar-Mu
mati
dan aku rasa
sesuatu yang tak mampu disyukuri dengan baik
ditarik kembali
karena memang Dia yang kuasa.
lalu bagaimana jari yang mati
akan menulis kisah yang hidup?
maka itu pun tujuannya
menangkap aku dalam pelukan-Nya.
Sabtu, 31 Mei 2014
31 Mei 2014
Pesan-pesan tersampai samar
Lalu membuka memoar-memoar kecil
Berderet bayu menyapu pesisir
Sabtu, 17 Mei 2014
teror
kalau Kau izinkan,
aku hanya ingin tersenyum saat membaca namanya
tak ingin lagi aku takut dan cemas,
seolah ia lah pangeran gelap yang akan menghapus semua cerita indahku
hanya jika Kau izinkan, Ayah
jangan biarkan ia menjadi Pak Pos pembawa surat duka untukku...
Rabu, 05 Februari 2014
Ditinggal
Satu dari 16 rajawali mudaku telah siap pergi
Tugas yang ia emban nanti,
Mungkin akan berpuluh kali beratnya.
Yang hadir dalam kepala pipit ini
Justru satu kata yang tak ingin ia ucap.
Nelangsa.
Aku mengantarnya ke tepi tebing tuk siap terbang
Akankah ia terbang dengan sempurna?
Akankah ia sampai di rumah dengan utuh?
Akankah ia sisihkan sebagian ingatan untukku dan saudara-saudaranya?
Atau hanya berlalu meraih kebebasan?
Ayah,
Bisa kuserahkan ia pada-Mu.
Dari jauh, semoga kicauku tetap terdengar olehnya.
Aku melepasnya, berharap sayapnya telah cukup kuat
Bulunya telah cukup lebat
Agar ia tak perlu jatuh dalam dingin.
Aku di sini, melepasnya
Dan tolong hadiahkan sebuah senyuman.
Minggu, 26 Januari 2014
Badai
Ayah,
Semalam badai menjatuhkan sangkarku
Besinya bengkok dan celahnya melebar
Lalu kuintip tuan dan nyonya dalam peraduan
Keduanya menangis
Ternyata badai pun mengoyak hati keduanya
Dan bila pipit ini satu-satunya kawan mereka yang tersisa
Masih boleh kah aku menyusup terbang tinggalkan mereka?