Sabtu, 26 Mei 2012

26-05-12

detak detik jarum jam
masih berlalu di hadapku
gemerlap rentetan gigi dan senda gurau
membawa angan menari, terbang ke awang-awang
gundahku tinggal satu
yang tak pernah terbaca dan tergambarkan

Kamis, 24 Mei 2012

kisah pipit dimakan sepi

begini ceritanya
ia ingin menjadi pipit kecil di tepi telaga
bebas lepas tak akan ada yang bisa memakunya
sangkar, jeruji besi pun tidak
ia hendak terus mengepakkan sayap kecilnya
meski rapuh, meski ada puluhan elang yang jauh lebih berkuasa di angkasa
ia adalah simbol kebebasan sejati yang tak pernah terkungkung oleh apapun
kawananya adalah udara, angkasa lepas
dan telaga -yang lebih erat
yah, begitulah ia
sampai sampailah hari sepi berkunjung
pada telaga ia temukan rupa yang sama
terbatas oleh riak air bayangan itu tak pernah mampu keluar
menjadi teman seperti angkasa dan udara
ia tersenyum berbalas
mata dalam telaga itu memancarkan bahagia yang tak kalah menyilaukan
ada kegembiraan yang sama dengan yang ada di dadanya
"Bahagiakah ia? terkurung berbatas riak air setiap harinya"
dan seketika angkasa, udara dan kebebasan seolah bukan teman berarti
"Ada ia di sana. terkurung pun aku tak sendiri"
dan ia menyusul kawan barunya
dalam sepi ia mencari
kawan baru yang terkurung senyum sendiri
ia temukan...
dan mati...

Sabtu, 19 Mei 2012

miris

aku mulai tak percaya pada keajaiban permainan kataku
miris
saat kusadari bukan ia yang dipuja
namun sisi lainku yang sama sekali tak ingin kubanggakan

jebakan

aku kembali pada bentuk awalku
apa yang pernah ku pupuk sebagai pondasi
kini runtuh, dan aku terperosok ke dalamnya
kini aku kembali menjadi aku
pada bentukan semula
bukan jemari yang lihai melukis
pada kata-kata
aku merangkak dari awal
berusah keluar dari jebakan aku
kembali ke permukaan tanah
melihat keindahan lagi di luar aku
dan yang terparah
keluar dari konsep pemujaanku terhadap sesuatu
yang meruntuhkan pondasiku

tumpah ruah

aku makin buta arah
gundahku nyaris tak tertolong
satu yang kan bawaku pada ketenangan alam baka
menyerukan nama dan...
entah inginku menampar, memeluk atau justru
membunuhnya dengan segudang tanya

andai aku bukan penghuni museum
sendiri dalam kotak kaca ini
andai yang dipajang bukan hanya rasaku
andai ada yang lain
yang juga tak fasih membahasakan rasa
dan tatapan ini

sayang
hanya aku di sini
dalam kotak kacaku sendiri
antik, terpajang apik

andai ada yang bisa merasakan awan seperti apa yang kurasa
andai ada juga yang pernah kecanduan bercerita pada langit
entah terlalu percaya
atau mungkin butuh iba
karena kesepiannya
oleh rindu yang tak berbatas
kotak kaca