Jumat, 24 Agustus 2012

Malamku

Malam tak pernah jauh dariku
Ia di sana
Kadang dengan bulan sebagai penghias
Atau bintang temannya
Meski tak jarang kelabu tanpa apapun yang bisa membuatnya nampak ceria
Malam tak pernah betah lama-lama pergi
Ia akan menagih pada siang
Waktu jaganya yang panjang
Malamku malammu tak kan pernah pudar
Pekatnya kan tetap tak tersamarkan

Senin, 13 Agustus 2012

Iri

Aneh.. Aku tak menemukan subyek lain
Untuk kukatakan
"aku iri padanya"
Hanya ada satu nama yang selalu melekat
Tak mau hilang dan menbayangi
Aku...
Iri terkirim pada alamat yang pasti
Atas nama "Aku"

Jumat, 10 Agustus 2012

Alasan

Semakin lama garisnya semakin datar
Tak ada lonjakan seperti dulu
Tanda-tanda tanya pun lenyap
Dan aku semakib sulit mencari
Dimana ia tinggal, alasan..

Kamis, 09 Agustus 2012

Usai obrolan senja

Aku munyudut di tengah keramaian
Senja jelas menantang mata
Ramai sudah menyerbu telinga
Namun seperti biasa setelah obrolan-obrolan senja lain
Aku hanya mampu menyepi sendiri
Dan...
Mencoba akrab dengan kesunyian
Penghakiman terhadap hidupku

Uneg-uneg

Kebohongan.. Gimana kalau setiap tarikan nafas kita diwarnai oleh kebohongan? Kebohongan pada diri, mata, pikiran bahkan hati kita sendiri.. Ya, teman saya benar. Menghindari kebohongan seribu kali lebih sulit dari menahan diri untuk tidak membunuh seekor nyamuk. Seakan pilihan kita hanya dua, bohong atau hancur..
Kebohongan..bukannya hidup sendiri merupakan sebuah kebohongan?

Selasa, 07 Agustus 2012

Kau

Aku dicekoki oleh segala jenis kebenaran tentagmu
Hanya kau dan selalu kau
Hingga sekali lagi aku jatuh
Terpuruk dan ingkar janji
dan di sana kautertawa mendapati Kesalanan dan kebodohanku
Sementara kau masih mampu bertahan di singgasana megahmu
aku diperbatasan mengintip dari balik tembok batas mimpi dan nyata.

Sekedar cerita

Kadang gue pergi ke dokter, konselor, atau orang-orang yang gue anggap bisa membantu dan memberikan saran atas mesalah gue. Ada yang memang benar-benar bisa membantu. Tapi ga sedikit juga yang ga memberikan perubahan berarti. Mungkin karena prinsip "semua kembali ke diri anda sendiri". Dokter, konselor, teman dan orang- orang itu bagaimana pun juga hanya tokoh di luar diri kita. Mereka ga ada di situasi kita, di posisi kita dalam masalah. (Bukannya itu tujuan kita datang ke mereka? Untuk memberi masukan yang objektif?)
Pengertian mereka terhadap kut, solusi yang meluncur dari mulut mereka, semua itu dengab mudah keluar karena mereka ga sedang berada di posisi kita yang -mungkin -dilematis. Semudah itu. Mereka ga benar-meeasakab apa yang kita rasakan.
Dan sekarang, saat gue berada di posisi mereka, sebagai seorang konselor, tang ada di pikiran gue masih sama. Apa gue sanggup mengerti dan mendalami mereka, membayangkan seperti apa jadi mereka? Apa kalao gue melakukan hal itu ga akan mwngurangi nilai obektifitas saran dab sokusi gue?